04 Apr

Double Misunderstanding (Tourist versus Local food)[1]

Oleh : Dr Drevy Malalantang

Sulawesi utara dan Manado sebagai ibukota adalah daerah yang kaya dengan khazanah makanan tradisional yang sehat dan bergizi yang khas dan unik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di masyarakat sering muncul anggapan bahwa makanan dari Barat merupakan makanan yang sehat dan modern serta keren. Padahal anggapan seperti itu keliru malahan sebaliknya, banyak makanan non lokal yang selama ini dianggap modern, ternyata disinyalir dapat memicu radikal bebas.

Fast food atau makanan cepat saji adalah salah satu contoh istilah dari makanan yang pengolahannya membutuhkan waktu yang cepat dan dapat dikonsumsi secara instan. Dengan prosesnya yang serba instan, fast food cenderung memiliki kandungan nutrisi yang tidak seimbang. Kebanyakan fast food mengandung kalori, lemak dan garam yang tinggi yang dapat merugikan kesehatan. Masakan fast food dewasa ini banyak digemari, disamping rasanya, makanan ini tidak memerlukan waktu lama dalam penyajiannya, sehingga selalu menjadi pilihan utama bagi konsumen yang ingin segera menikmati waktu makan.

Dua kesalahpahaman yang terjadi tentang persepsi lokal kuliner atau “local food” dalam hal ini minahasa food. Kesalapahaman yang pertama terjadi pada Turis yaitu mereka enggan mencicipi lokal food karena (mungkin) makananya akan menyebabkan sakit oleh karena proses produksi ataupun ingredients atau resepnya yang tidak biasanya, dan kesalapahaman yang kedua terjadi pada local people bahwa mereka takut kalau turis tidak senang dengan makanan, oleh karena  “taste”nya, situasi restorannya nya atau lokasinya, ataupun orang local berpendapat bahwa turis harus dibawa atau diantar pada restoran yang mewah dengan menu standar. Padahal kedua pemahaman ini  tidak selamanya benar. Inilah maksud dari judul tulisan saya adalah terjadi “double misunderstanding

Sejenak kita tengok sisi kuliner benua Eropa bahwa perbedaan Menu di berbagai Negara di Eropa menjadi dasar untuk menjadi pilihan turis Eropa mencoba masakan minahasa atau makanan local. Dapat diambil sebagai contoh Belanda dengan Belgia memiliki jarak yang tidak terlalu jauh, namun memiliki jenis makanan yang sama sekali berbeda semisal waffle, mussels, atau friet. Demikian juga dengan Jerman yang adalah bagian dari benua Eropa yang memiliki makananan yang sangat berbeda juga seperti Wurst, Sauerkraut, Kartoffelsalat dll. Sehingga bagi turis Eropa Menu Minahasa dapat ditawarkan sebagai menu alternative selain makanan Eropa pada saat turis ini berada di Manado. Orang Eropa atau Tourist Eropa lebih memilki sense of Adventure termasuk sense of culinary-nya oleh karena berasal dari berbagai perbedaan yang dimiliki di benua Eropa.  Hal ini agak bebeda dengan turis dari Amerika yang sangat fanatik dengan menu yang American style.  Sehingga kenapa tidak mereka (turis Eropa) disugukan untuk mencoba menu selera minahasa seperti tinorangsak, woku belanga, dll.

Pengamatan saya tidak banyak guide atau local people yang membawa menggiring tamu atau turis mencicipi menu minahasa pada local restoran, ataupun local restoran tidak pede/percaya diri (confident) untuk menyambut turis asing. Pengalaman saya membawa turis Belanda yang sedang melakukan kerjasama dengan STIEPAR Manado,  Mr. Magiel, mengatakan bahwa dari ke empat kalinya ia berkunjung ke Manado ia mengamati bahwa tidak banyak turis yang datang mengunjungi restoran local dengan menu khas minahasa, padahal menurut dia makananya sangat enak, unik,  variatif dan sangat layak untuk di konsumsi oleh turis mancanegara. Turis Bukan mencari menunya atau makananya tapi Experience-nya (pengalamannya), kalau mereka berkunjung ke restoran tradisonal mereka akan merasakan atmospfeer yang sangat unik khas penduduk local (Local People). Adalah hal yang penting bahwa kita harus bisa bagaimana menginformasikan pada turis bahwa ada makanan local yang layak dicoba atau dikonsumsi dan dimana lokasi local restoran yang bisa dikunjungi.

So bagi pelaku local culinary, local restoran jangan ragu untuk menawarkan makanan local atau trasidional bagi turis asing. Beberapa hal yang perlu dan penting untuk dipersiapkan oleh restoran lokal untuk menyambut turis asing yang akan berkunjung ke restoran anda adalah disamping menu dengan Bahasa Indonesia sangat penting untuk membuat daftar menu dalam bahasa Inggris, apa resep dan ingredients (bahan/bumbu), serta bagaimana pengolhannya, sehingga turis mengetahui jenis makanan apa yang ada pada daftar menu, disamping ada waiter/s yang dapat berkomunikasi minimal dalam Bahasa Inggris. Atau setidaknya lewat menu yang sudah dibuat dalam versi Bahasa Inggris. Dengan demikian turis akan mengetahui jenis makanan yang tertulis dalam menu pada restoran local tersebut, berikut tetap memperhatikan hygiene sanitasi dan food safety..

Sangat disayangkan apabila turis hanya mengkonsumsi makanan yang hanya berada di hotel, atau restoran franchise dengan gaya menu modern, maka keuntungannya tidak dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Bahkan dalam tanda petik “uangnya (hanya) akan mengalir ke pemilik atau pengusaha besar tentunya”, bahkan kemungkinan pemilik modal berasal di luar kota Manado dan bukan orang asli lokal. Padahal salah satu manfaat pariwisata harus bermanfaat bagi masyarakat local, namun peluang yang seharusnya ada di depan mata tidak diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai. Welcome Local Food! Maju terus lokal restoran. (penulis adalah Direktur STIEPAR Manado)

[1] Disampaikan pada Acara Seminar Lokal Food, Radio Talk show, Cooking Competition “Save The Minahasa Culinary Heritage” diselenggarakan oleh STIEPAR Manado, Indonesia Chef Association, Radio SMART FM 101.2 .

Leave a Comment